27.2.09

BARTER

Akhirnya David duduk dan tidak membahas apa-apa. Ini rahasianya dengan Riska. Dia memperhatikan Boni yang begitu senang memegang kalung itu. Tidak menyadari bahwa dia berada di rumah sakit karena sesuatu yang gawat. David melihat ke jendela ada sebuah bayangan berkelebat lalu hilang. Riska mungkin telah tenang. Mungkin kalung itu baginya lebih penting dari nyawanya sendiri. Dan mungkin ada banyak kemungkinan lain tidak dapat terungkapkan dengan akal sehat. David menarik nafas panjang. Dibelainya rambut Boni lalu mengecup dahinya.

20.2.09

HARI BURUK DARA

Seorang pria berjas putih keluar dari ruang UGD. Eno segera menghampirinya dan berbicara sesuatu padanya. Sang dokter memandangku lalu menghampiriku. Dimintanya agar aku ikut ke ruangannya. Dengan patuh aku mengikutinya. Eno menggandeng tanganku dan Baim masih menunggu di depan ruang UGD.

Kami masuk ke ruangan dokter Rainhard yang sejuk dan berbau alkohol yang tajam.

Kalian orngtuanya?” tanya sang dokter.

Saya ibunya. Anak saya keadaannya bagaimana?” tanyaku tanpa basa-basi.

14.2.09

BUKAN HARI KEMARIN

Dia tidak lebih dari seorang pengamen jalanan. Hanya itu yang dia katakan setiap kali pertanyaan seputar asal-usul meluncur begitu saja dariku. Berlaku juga dengan namanya. Hanya Tia. Tidak ada nama lain baik di depan atau di belakangnya. Tidak masalah sebenarnya siapa dia. Selama ini sosoknya lebih banyak mengesankan sebagai orang baik-baik ketimbang orang jahat di mataku.

6.2.09

MISTER ALESSANDRO

Hidupku sudah tidak pernah lagi normal sejak kepindahanku ke rumah Mister Alessandro yang terletak di kompleks perumahan elit. Setidaknya gerak-gerikku serasa tidak bebas. Mau keluar rumah otomatis dua bodyguard mengawalku. Supir siap kapan saja di belakang kemudi.

Mister Alessandro kabarnya pengusaha kaya raya di negaranya. Usianya terbilang muda untuk bisa menikmati sebuah kehidupan yang mulus tanpa banyak hambatan. Tiga bulan lalu kulihat pertama kali dirinya.