30.1.09

DI BALIK SUARA HUJAN

Kembali ke masa itu…

Handoko Trisnawan merapikan tangan kemeja yang semula dilipat lalu mengancingkannya baik-baik. Ujung kemeja yang agak keluar diselipkannya ke dalam celana kain coklat tua dengan ikat pinggang hitam murahan. Dibawanya stopmap berisi ijasah, CV, dan sertifikat kursus komputer dari salah satu lembaga pelatihan komputer kurang ternama. Sebulan lalu dia mengirimkan lamaran untuk lowongan di sebuah perusahaan tekstil sebagai staff administrasi. Dia percaya diri memenuhi kriteria yang dibutuhkan perusahaan itu. Meski hatinya ketar-ketir menunggu panggilan.

23.1.09

REUNI

Vena nampak sedang berada di depan pintu ruangannya. Dia tengah berbicara dengan salah satu bawahannya yang mengenakan headset dan membawa papan kayu persegi di tangan kirinya. Usia mereka nampaknya terpaut sekitar sepuluh tahun. Si bawahan nampak sedang mendapatkan pengarahan dari Vena.

Pembicaraan antar Vena dan bawahannya selesai ketika Andari sampai. Vena memesan dua cangkir kopi dengan krimer pada OB yang kebetulan melintas di depannya.

Mari masuk, Mbak.” Ujar Vena dengan sopan. Dia membukakan pintu dan mempersilahkan Andari masuk lebih dulu ke dalam ruangan yang dinginnya bukan main.

16.1.09

ME AND MY FATHER

Serombongan mahasiswi India duduk di seberang meja. Mereka semua berambut panjang dan berpakaian semi moderen. Buku-buku tebal diletakkan di atas meja. Pasti kampus mereka tidak jauh dari sini, pikirku. Usia mereka mungkin sekitar lima tahun di bawahku. Kupandangi mereka satu persatu dan terhenti pada sosok seorang gadis yang tanpa sengaja juga tengah melihat ke arahku. Kulitnya coklat seperti bintang film Bolliwood, Kajol. Tubuhnya ramping tidak begitu tinggi. Mengenakan kacamata tipis dan membuatnya mirip sosok dosen dalam film-film India yang sering digoda para mahasiswanya. Aku melirik ayah. Dia tersenyum dan tahu beberapa saat lalu pandanganku menangkap sosok yang menarik. Semoga dia belum ada yang punya, harapku.

9.1.09

RALVINZA

“Bagaimana aku bisa waspada jika sampai sekarang aku tidak tahu yang mana musuhku. Beri tahu aku siapa majikan macan putih, Noran. Aku ingin memastikan dia tak mengenaliku.”

2.1.09

SEMOGA FAJAR SEGERA DATANG (CERPEN 17+)

“Henri?” tebakku. Tujuh puluh persen yakin dan senyuman di bibirnya menjadi jawaban. Aku menutup mulut dan mataku melotot tanpa kusadari. Kuamati sekali lagi tampilan perempuan di hadapanku ini. Kemulusannya, lekuk-lekuk yang seperti aslinya, pita suara yang tidak berat maupun identik sebagai kaum Adam. Rambutnya asli. Apa yang terjadi padanya? Operasi besar-besaran? Mengganti DNA? Henri Valentian! Teman sepermainan yang dulu sangat macho dan penggoda. Kulitnya kecoklatan dan ibarat medan magnet yang dengan mudahnya mencuri hati lawan jenisnya. Sepuluh tahun berselang dia berubah atau mungkin kurang dari itu. Dia ibu Tommy? Merangkap ayah? Tommy anak adopsikah seperti Auriel?