30.12.08

RALVINZA THIS WEEK

Endita menutup buku agenda ayahnya. Berarti dia harus menyelidiki sendiri. Nafasnya terhela panjang. Majikan macan hitam memiliki pribadi tertutup dan kekuatan yang sulit ditebak. Endita memijiti kepalanya. Ternyata tak mudah untuk merebut macan hitam. Darimana harus memulai? Tangan kanannya terasa nyeri. Dia meringis. Luka tembak itu kini mengganggu kenyamanannya. Harusnya Satria melindunginya dari ancaman bahaya seperti itu. Pada kenyataannya Satria tak melakukan apa-apa.

19.12.08

MENEMUKANNYA (NEW ENTRY)

Ri, Aku takut. Dia semakin nekat. Katanya mau mengirim anak buah untuk mencariku. Sepertinya sebentar lagi tempat ini ditemukan olehnya. Ri, aku harus bagaimana? Harus sembunyi ke mana lagi? Aku lelah melarikan diri.” Ucap suara di seberang sana dengan getir dilengkapi isak tangis.

Ari menarik nafas dalam-dalam. Lirikan matanya mengarah pada jam digital di samping pesawat telfon. Pukul 2:17. Berarti baru satu jam lebih dia tertidur.

12.12.08

PILU ANAK JAKARTA

Suara peluit panjang terdengar dan menyentakkan Davi. Dia mengedarkan pandangan pada para penumpang yang sibuk menyiapkan barang bawaan. Sebentar lagi kereta akan memasuki stasiun Lempuyangan di kota tempatnya melarikan diri untuk dua hari ke depan. Resleting jaketnya dinaikkan sampai leher. Di stasiun ini juga tak ada yang menjemputnya atau berlari memeluknya dengan erat sama seperti saat keberangkatan. Tapi di kota ini tak ada Vera dan setumpuk masalah rumah tangga istri simpanan seorang pejabat pemerintahan yang dilema untuk aborsi ketiga kalinya. Tidak semua perempuan Jakarta sehina Vera, tapi satu trauma berat cukup mengguncang jiwanya. Dia akan berpikir ribuan kali sebelum menginjakkan kaki di Pondok Indah Mall. Dua hari lagi udara Jakarta akan kembali dihirupnya dan Davi berharap hatinya telah pulih.

5.12.08

THIS WEEK SHORT STORY

Aku bukan adik atau kakaknya. Aku sama sekali tidak ada pertalian darah dengan finalis pemilihan model sebuah produk susu khusus laki-laki itu. Kami baru kenal dua tahun lalu di bioskop karena kami duduk bersebelahan dan menonton film horor. Dia datang sendiri dan aku juga sendiri. Kami berkenalan karena di tengah-tengah film dia tiba-tiba memegang lenganku begitu sosok kuntilanak muncul. Jarak muka kuntilanak dan kamera hanya sekitar setengah meter. Sepanjang film dia terus menjadikanku tempat bersandar sampai lampu menyala. Laki-laki yang tampan dan gagah, tapi aku tahu dia berbeda dari laki-laki umumnya. Kami berkenalan dan jalan bareng. Usiaku 4 tahun lebih tua darinya. Vincent tipe laki-laki yang sering dikejar-kejar para ABG, tapi sayangnya dia tak suka perempuan. Dia lengket denganku bahkan menurut orang kami sangat mesra walaupun kami berdua tidak berpikir seperti itu. Di balik tubuhnya yang sixpack tersembunyi sisi feminin yang amat kuat.