31.10.08

RALVINZA page 3

Ralvinza menaikkan alis. Jelas penafsiran kali ini cukup mempengaruhinya. Dia pernah mendengar legenda macan putih dari kedua orangtuanya. Sepertinya bukan isapan jempol semata. Konon macan putih memiliki tuan yang sanggup membuat semua orang tunduk patuh padanya. Ralvinza tak pernah diceritakan lebih lanjut tentang tuan si macan putih. Bulu kuduknya merinding tanpa sebab. Dia sendiri majikan macan hitam tapi tak banyak tahu nasib si macan putih. Tapi…saudara kembar? Lelucon apa ini?




REUNI page 3

Lima puluh meter dari perempatan, penumpang di sebelah Xandra memberi tanda-tanda akan turun. Komiknya dimasukkan ke dalam tas lalu dia beranjak meninggalkan tempat duduknya tanpa merasa kesulitan dengan tubuh kecil dan bergerak lincah. Dia meminta pada kondektur untuk berhenti tepat di dekat plang wartel. Roda berhenti sesuai permintaan. Perjalanan kembali berlanjut.

Di perempatan berikutnya dua pengamen naik dan menyanyi seadanya. Dengan nada-nada yang tidak pas serta suara sumbang. Keduanya mengenakan kaus hitam pudar tanpa lengan serta bawahan celana jins kumal dan robek-robek. Sendal jepit yang sudah tidak jelas lagi apa warna aslinya. Anting-anting berderet dipamerkan salah satu pengamen yang menyodorkan gelas bekas air mineral kepada setiap penumpang seolah itu bisa membuat penumpang yang tadinya enggan memberi koin berubah pikiran. Begitu lampu hijau menyala keduanya siap-siap turun di seberang lampu merah.




LUNA & MIKE scene 2


  1. INT. DAPUR - PAGI

Luna membuka pintu kulkas MENGAMBIL SUSU KOTAK lalu menenggaknya. Menyimpan kembali susu ke tempat semula. HP di atas meja makan berbunyi. Luna mengangkatnya.


LUNA

Hari gini masih pake private number, Ra?


Luna menggaruk-garuk alis kanannya. Luna berjalan mendekati jendela. Melihat ke halaman belakang rumah. Tukang kebunnya nampak baru datang dan mengeluarkan peralatan berkebun dari dalam gudang untuk merapikan rumput di halaman.