ANDIKA
“Di..Dika…kenapa tidak ke rumah sakit?” tanya Shinta lirih.
Dika mengangkat wajah. Dahinya berkerut saat melihat Shinta tiba-tiba berdiri di sana. Pandangannya mengedar memastikan tidak ada orang lain di tempat itu. Nafasnya terhela pendek.
“Buat apa? Toh begitu sembuh akan ada luka baru lagi.” Jawabnya tenang. Dia melumuri kapas dengan alkohol lalu mengusap daerah sekitar lukanya. Setelah itu diambilnya betadin dari dalam tas serta mempersiapkan perban baru.
