20.3.09

ANDIKA

Di..Dika…kenapa tidak ke rumah sakit?” tanya Shinta lirih.

Dika mengangkat wajah. Dahinya berkerut saat melihat Shinta tiba-tiba berdiri di sana. Pandangannya mengedar memastikan tidak ada orang lain di tempat itu. Nafasnya terhela pendek.

Buat apa? Toh begitu sembuh akan ada luka baru lagi.” Jawabnya tenang. Dia melumuri kapas dengan alkohol lalu mengusap daerah sekitar lukanya. Setelah itu diambilnya betadin dari dalam tas serta mempersiapkan perban baru.

13.3.09

OPERASI

Tujuh November dua ribu delapan atau tiga bulan sejak rasa ngilu gigi bungsu sebelah bawah bagian kiri lebih sering mengusikku tanpa kenal waktu. Tiga bulan lalu hanya senut-senut sesaat dan hilang sebelum pil sakti dari dokter Dion kutelan. Keempat gigi bungsuku memang bermasalah dengan akar yang tumbuh bengkok sana-sini. Itulah yang kulihat dari foto rotgen setahun lalu. Untuk merekalah aku harus bolak-balik Panti Rapih sepulang kantor pada hari Jumat.

6.3.09

MENCARI STELLA

Karissa sempat menjadi TKI selama setahun di rumah seorang warga Singapura yang judes bukan main. Suami-istri yang tiap hari hanya beradu mulut dan jika sudah memuncak guci-guci dan lukisan mahal pun jadi pelampiasan terakhir. Karisa sempat menjadi korban karena keberadaannya di waktu yang tidak tepat. Kakinya mendapat sepuluh jahitan.

27.2.09

BARTER

Akhirnya David duduk dan tidak membahas apa-apa. Ini rahasianya dengan Riska. Dia memperhatikan Boni yang begitu senang memegang kalung itu. Tidak menyadari bahwa dia berada di rumah sakit karena sesuatu yang gawat. David melihat ke jendela ada sebuah bayangan berkelebat lalu hilang. Riska mungkin telah tenang. Mungkin kalung itu baginya lebih penting dari nyawanya sendiri. Dan mungkin ada banyak kemungkinan lain tidak dapat terungkapkan dengan akal sehat. David menarik nafas panjang. Dibelainya rambut Boni lalu mengecup dahinya.

20.2.09

HARI BURUK DARA

Seorang pria berjas putih keluar dari ruang UGD. Eno segera menghampirinya dan berbicara sesuatu padanya. Sang dokter memandangku lalu menghampiriku. Dimintanya agar aku ikut ke ruangannya. Dengan patuh aku mengikutinya. Eno menggandeng tanganku dan Baim masih menunggu di depan ruang UGD.

Kami masuk ke ruangan dokter Rainhard yang sejuk dan berbau alkohol yang tajam.

Kalian orngtuanya?” tanya sang dokter.

Saya ibunya. Anak saya keadaannya bagaimana?” tanyaku tanpa basa-basi.